hERBAL

Orang Mukmin Tidak Kekal di Neraka

Ada sekelompok ummat Islam yang mentahrif syafa'at sehingga berfahaman bila seseorang (muslim) masuk neraka karena beratnya dosa, maka ia kekal selamanya (tidak ada jahanamiyyun, orang yang masuk surga yang sebelumnya diazab di neraka).
Disini keadaan seorang muslim sama dengan orang kafir, sama-sama kekal di neraka. Mereka berdalil dengan : " Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan."( Al-A'raf : 40 ).( padahal ayat tersebut yang dijadikan pegangan adalah dimaksudkan untuk orang kafir dan musryik ).

 Hadits-hadits berikut dianggap bertentangan dengan Al-Quran, semoga Allah menunjuki mereka. Wallahu a'lam.
”Apabila penduduk jannah telah masuk jannah dan penduduk neraka telah masuk neraka, Allah akan berfirman, ”Barang siapa di hatinya ada seberat biji sawi keimanan, keluarlah ia (dari neraka)! ” Maka mereka akan keluar dalam keadaan hangus dan menghitam legam, kemudian mereka akan dilemparkan ke nahrul hayah (sungai kehidupan), lalu mereka akan tumbuh seperti tumbuhnya biji yang dibawa aliran air.” Lalu beliau melanjutkan, ”Tidaklah kalian tahu bahwa biji tumbuh berwarna kuning dan meliuk.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akan kaluar dari neraka satu kaum setelah mereka terjilat oleh apinya, lalu mereka masuk ke dalam jannah. Para penghuni jannah menamai mereka dengan al-jahanamiyyun (mantan penghuni jahannam). (HR. Bukhari dan Muslim)


Ubadah bin Shamit menuturkan, Rasulullah bersabda :


" من شهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن عيسى عبد الله ورسوله، وكلمته ألقاها إلى مريم وروح منه والجنة حق والنار حق أدخله الله الجنة على ما كان من العمل " أخرجاه
“Barang siapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu bagiNya, dan Muhammad adalah hamba dan RasulNya, dan bahwa Isa adalah hamba dan RasulNya, dan kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam, serta Ruh dari padaNya, dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya kedalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya. ( HR. Bukhori & Muslim )

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula hadits dari Itban bahwa Rasulullah bersabda :


" فإن الله حرم على النار من قال لا إله إلا الله يبتغي بذلك وجه الله "
Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang orang yang mengucapkan
لا إله إلا الله dengan ikhlas dan hanya mengharapkan ( pahala melihat ) wajah Allah”.

Diriwayatkan dari Abu Said Al Khudri bahwa Rasulullah bersabda :


" قال موسى يا رب، علمني شيئا أذكرك وأدعوك به، قال : قل يا موسى : لا إله إلا الله، قال : يا رب كل عبادك يقولون هذا، قال موسى : لو أن السموات السبع وعامرهن – غيري – والأرضين السبع في كفة، ولا إله إلا الله في كفـة، مالت بهـن لا إله إلا الله " ( رواه ابن حبان والحاكم وصححه ).
“Musa berkata : “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingatMu dan berdoa kepadaMu”, Allah berfirman :” ucapkan hai Musa لا إله إلا الله ”, Musa berkata : “ya Rabb, semua hambaMu mengucapkan itu”, Allah menjawab :” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya – selain Aku - dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimat لا إله إلا الله diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimat لا إله إلا الله lebih berat timbangannya.” ( HR. Ibnu Hibban, dan imam Hakim sekaligus menshahihkannya ).

Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits (yang menurut penilaianya hadits itu hasan) dari Anas bin Malik ia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda :


" قال الله تعالى : يا ابن آدم، لو أتيتني بقراب الأرض خطايا، ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا، لأتيتك بقرابها مغفرة "
“Allah berfirman : “Hai anak Adam, jika engkau datang kepadaKu dengan membawa dosa sejagat raya, dan engkau ketika mati dalam keadaan tidak menyekutukanKu dengan sesuatupun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sejagat raya pula”.

1881.Dari Ibnu Mas'ud r.a., katanya: "Sesungguhnya saya niscayalah mengetahui orang dari golongan ahli neraka yang terakhir sekali keluarnya dari neraka itu dan ia pulalah orang dari golongan ahli syurga yang terakhir sekali masuknya dalam syurga. Yaitu seorang lelaki yang keluar dari neraka
dengan merangkak, lalu Allah 'Azzawajalla berfirman padanya: "Pergilah - menjauhi dari neraka - dan masuklah dalam syurga." Orang itu mendatangi syurga kemudian tampak di matanya, seolah-olah syurga itu sudah penuh sesak. la kembali lalu berkata: "Ya Tuhanku, saya mendapatkan syurga itu sudah penuh sesak." Allah 'Azzawajalla berfirman lagi padanya: "Pergilah dan masuklah dalam syurga." Sekali lagi ia mendatangi syurga itu dan tampak pula dalam pandangannya, seolah-olah syurga itu sudah penuh sesak. Ia kembali pula
lalu berkata: "Ya Tuhanku, saya mendapatkan syurga itu sudah penuh sesak." Allah 'Azzawajalla berfirman pula: "Pergilah, sesungguhnya untuk bagianmu itu adalah seperti sedunia luasnya dengan tambahan sepuluh kali lagi yang seperti itu. Jadi untukmu adalah sepuluh kali seluas dunia." Orang itu berkata: "Adakah Tuhan mengejek padaku atau menertawakan diriku, sedangkan Tuhan adalah Maha Merajai."
Ibnu Mas'ud berkata: "Sungguh-sungguh saya melihat Rasulullah s.a.w. ketawa, sehingga tampaklah gigi-gigi gerahamnya, kemudian beliau bersabda: "Yang sedemikian itu tingkat yang terendah sekali dari golongan para ahli syurga." (Muttafaq 'alaih)

1526. Dari 'Itban bin Malik radhiyallahu 'anhu. dalam Hadisnya yang panjang lagi masyhur yang telah dulu uraiannya dalam bab Harapan - lihat Hadis no. 416, katanya: "Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam berdiri untuk bersembahyang, lalu bersabda: "Manakah Malik bin Addukhsyum?" Lalu ada seorang yang berkata: "la adalah seorang munafik yang tidak mencintai Allah dan RasulNya." Kemudian Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah engkau berkata demikian, tidakkah engkau melihat bahwa ia juga telah mengucapkan La ilaha illallah, yang dengan membacanya ia menghendaki keridhaan Allah. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kepada neraka orang yang mengucapkan La ilaha illallah yang dengan mengucapkannya itu ia mengharapkan keridhaan Allah itu." (Muttafaq 'alaih)

Sesungguhnya  akan menimpa suatu kaum siksaan dari api  neraka karena dosa-dosa yang mereka lakukan sebagai suatu balasan, kemudian Allah memasukan mereka ke dalam surga karena rahmat-Nya, lalu dikatakan kepada mereka al-jahanamiyyun“.[orang-orang yang masuk surga setelah sebelumnya diazab di neraka]. [HR. Bukhari dari Anas (7450)].

Mereka masuk surga setelah sebelumnya diazab di neraka karena pada diri mereka masih ada ashlul iman  yang merupakan lawan dari kekafiran, sebagaimana sabda Rasul Shallahu ‘Alaihi Wasallam : “……Hingga apabila Allah telah selesai memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Nya dan mau mengeluarkan mereka dari neraka sebagai penghuni neraka dengan rahmat-Nya, maka Allah menyuruh para malaikat-Nya untuk mengeluarkan mereka dari neraka yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, dari orang yang Allah ingin menyanginya, yaitu orang yang bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak disembah melainkan Allah dan mereka dikenali di neraka dengan tanda-tanda bekas sujudnya.” [HR. Bukhari dari Abu Hurairah (7427)].

“Itu Jibril datang kepada saya, dan berkata : “Barangsiapa dari umatmu yang mati dalam keadaan tidak sedang menyekutukan Allah dengan sesuatu maka dia masuk surga”. Lalu Abu Dzar bertanya : Walaupun dia berzina dan mencuri?, Nabi SAW., menjawab, walaupun dia berzina dan mencuri! [HR. Bukhari (644?,4)],
 
 
 
Dalil yang menunjukkan adanya syafaat pasti terjadi di akhirat antara lain:

Kemudian al minhal berkata, Abdullah bin al harits meriwayatkan kepadaku juga bahwa Rasulullah bersabda:“segolongan dari umatku telah diperintahkan untuk masuk neraka, maka mereka berkata,”wahai Muhammad kami mengharapkan syafaatmu”. Maka aku menyuruh malaikat agar menghentikan mereka. Lalu aku pergi & dan memimta izin kepada Tuhan Yang Mahamulia lagi Maha Agung. Maka Dia mengizinkan dan akupun bersujud seraya berkata, “Wahai Tuhanku, segolongan dari umatku telah diperintahkan untuk dibawa ke neraka.” Maka Allah berkata, “Pergilah dan keluarkan orang-orang dari mereka sesuai yang dikehendaki Allah untuk engkau keluarkan.” Kemudian sisanya memanggil, “wahai Muhammad kami mengharap syafaat darimu..” akupun kembali kepada Tuhan dan meminta izin dan Dia memberiku izin, lalu akupun bersujud dan dikatakan, “Angkatlah kepalamu, mintalah dan akan diberi, dan mintalalah syafaat niscaya engkau diberi syafaat!” maka akupun memuji Allah dengan pujian yang belum ada seorangpun memuji dengan pujian yang seperti itu, lalu aku berkata, “Segolongan dari umatku diperintahkan untuk dibawa ke neraka”, ”Maka Allah berkata:  Pergi & keluarkan dari mereka orang yang pernah berkata LA ILAHA ILLALLAH” Maka aku berkata “Dan orang yang dalam hatinya ada seberat biji dari iman.” Lalu Allah berkata, “Wahai Muhammad itu bukan milikmu, sesungguhnya itu untukku”.
Rasulullah berkata “maka aku pergi dan mengeluarkan orang yang Allah menghendaki untuk aku keluarkan. Dan tinggalah segolongan orang maka mereka masuk neraka, maka penduduk neraka menghina mereka dan berkata, “kalian dulu menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dan Dia telah memasukan kalian ke neraka. Maka mereka bersedih karenanya”. Rasulullah mengatakan, kemudian ALLAH mengutus malaikat Malik untuk membawa segenggam air dan menyiramkannya ke dalam neraka maka tidak ada lagi seorangpun dari ahli LA ILAHA ILLALLAH kecuali tetesan itu mengenai wajahnya”. Rasulullah mengatakan, “Maka merekapun dikenali dengannya dan membuat penduduk neraka merasa iri terhadap mereka. Kemudian mereka dikeluarkan dan dimasukan surga dan dikatakan, “Berangkatlah dan bertamulah kepada orang-orang.” Kalaulah mereka bertamu kepada satu orang, pastilah mereka mendapati tempat yang luas dan mereka disebut al-Muhararin (orang yang dibebaskan).”

Hadist ini diambil dari kitab yang ditulis oleh Ibnu Katsir yang berjudul MALAPETAKA AKHIR ZAMAN, dimana hadist-hadist dalam kitab ini kedudukannya shahih menggunakan hadist yang sudah diteliti hingga ulama terakhir saat ini Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Bani, belaiu adalah ulama hadist..
 Berikut ayat-ayat yang menetapkan adanya syafa'at (dengan Izin Allah) :

“Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada IZIN-Nya.” (QS. Yunus : 3)

“Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi IZIN kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” (QS. Thaha : 109)

“…Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah…” (QS. Al-Anbiya’ : 28)

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah MENGIZINKAN bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (QS. An-Najm : 26)

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa'at, kecuali (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).” (QS. Az-Zukhruf : 86) 


Menurut Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan, dalam menyikapi masalah syafa’at, manusia terbagi menjadi tiga golongan:
Pertama, golongan orang-orang yang ghuluw (berlebih-lebihan) dalam menetapkan syafa’at.
Mereka adalah orang-orang Nasrani, orang-orang musyrik, kaum sufi ekstrim dan Quburiyun (pecinta “ziarah kubur” dan pengalap berkah di kuburan)
. Ketika mereka mempunyai keperluan terhadap Allâh Ta'âla, maka mereka memintanya melalui syafa’at orang yang mereka agung-agungkan. Alasannya, apabila seseorang memerlukan sesuatu dari rajapun, maka orang itu memerlukan perantaraan atau syafa’at dari orang-orang dekat raja. Apalagi memerlukan sesuatu dari Allâh Ta'âla, tentu juga memerlukan perantaraan.
Dengan demikian, mereka hakikatnya meminta-minta kepada orang yang diagungkannya, bukan kepada Allâh Ta'âla.

Kedua, golongan Mu’tazilah dan Khawarij.
Mereka ghuluw (berlebihan) di dalam menolak syafa’at. Sehingga mengingkari syafa’at Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam dan syafa’at selain Nabi bagi para pelaku dosa besar.

Ketiga, Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Mereka menetapkan adanya syafa’at sesuai dengan apa yang ditetapkan di dalam nash-nash al Qur`ân dan hadits-hadits Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam. Karena itu, Ahlu Sunnah wal Jama’ah menetapkan syafa’at sesuai dengan persyaratan-persyaratannya.


Dan semoga Allah membimbing kita dengan KelembutanNya, menunjuki kita kepada pemahaman yang lurus lagi benar.
Allahu A'lam Musta'an.
Tags: dari, tidak, yang, dengan, dalam, mereka, allah, orang, maka, berkata, neraka
Hits: 541

Add comment