hERBAL

Tafsir Alquran Surat Al Fatihah ayat 7 - Al Azhar

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Jalan orang-orang yang telah Engkau karuniai nikmat atas mereka,…” (pangkal Ayat 7).

Kita telah mendengar berita, bahwa terdahulu dari kita, Tuhan Allah telah pernah mengaruniakan nikmatnya kepada orang-orang yang telah menempuh jalan yang lurus itu, sebab itu maka kita mohon kepada Tuhan agar kepada kita ditunjukkan pula jalan itu.

Telah ada Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang diutus Tuhan, dan telah ada pula orang-orang yang menjadi syahid dan telah ada pula orang-orang yang shalih: semuanya dikaruniai kebahagiaan oleh Tuhan karena menempuh jalan itu. Bekasnya kita rasakan dari jaman ke jaman. Oleh sebab itu maka kita memohonkan pulalah agar kepada kita diberikan pula petunjuk supaya kita menempuh jalan itu dengan selamat.

Inilah yang kita mohonkan dengan Isti’anah kepada Tuhan, dengan berpedoman kepada AL QUR’AN. Kita mohonkan, tunjuki kiranya kami mana yang benar, karena yang benar hanya satu, tidak terbilang. Metode atas rencana yang benar di dalam menegakkan ahlak, budi bahasa, pergaulan hidup, filsafat, lqtishad (perekonomian), ijtima’ (kemasyarakatan), dan siasat (politik) dan sebagainya.

Sebab jalan di atas dunia ini terlalu banyak simpang siurnya, jangan sampai kita menjadi “Datuk segala iya”, atau sebagai pucuk aru yang mudah dicondongkan angin ke mana dia berkisar. Minta ditunjuki jalan tengah yang lurus yang tidak menghabiskan tenaga dengan percuma: “Arang habis besi binasa”.

Kami memohon, pimpin kiranya kami ke jalan itu, jalan bahagia yang pernah ditempuh oleh manusia-manusia yang Engkau cintai dan mencintai Engkau, yang menegakkan jalan terang di dunia ini.

Sekali-kali bukanlah kami meminta “kulit” nikmat. Di luar kelihatan menang, padahal di batin kami kalah. Di luar kelihatan mewah, padahal jiwa kering dan gersang, karena tidak pernah disirami oleh air hujan hidayat-Mu. Kami tidak memohonkan yang demikian.

Yang kami mohonkan ya Tuhanku, ialah nikmat yang kekal abadi, nikmat akan menjadi suluh kami di dalam hidup di dunia ini, dan bekal yang akan kami menghadap Engkau di akhirat, diliputi oleh ridha Engkau.

Apabila Allah telah menganugerahkan nikmat ridha-Nya kepada seseorang hamba, tercapailah olehnya puncak kebahagiaan jiwa di dalam hidup yang sekarang ini. Permulaan dari ridha Allah itu ialah bilamana telah tumbuh dalam jiwa keinsafan beragama, menjadi Islam yang berarti menyerah diri sukarela kepada Tuhan, dan iman yang berarti kepercayaan yang penuh. Islam dan Iman menimbulkan ihsan, yaitu bekerja terus memperbaiki dan mempertinggi mutu jiwa.

Maka timbullah Nur di dalam jiwa, cahaya yang memberi sinar kepada kehidupan. Dan cahaya itu jugalah yang akan menyuluhinya sampal ke akhirat. Nikmat inilah yang kita mohonkan: tercapai hendaknya oleh kita kehidupan sebagai Nabi-nabi, Rasul-rasul dan syuhada dan shalihin itu. Karena kalau nikmat itu telah datang, telah tercapailah oleh kita kekayaan yang sejati. Dengan kekayaan itu kita tidak merasa takut menghadapi hidup dengan segala tanggungjawabnya bahkan merekapun tidak gentar menghadapi maut, sebab maut hanyalah perkisaran sejenak daripada hidup fana kepada hidup yang khulud.

Berapa banyaknya orang yang mati, menjadi korban karena menegakkan Imannya kepada Tuhan, namun jejak kebenaran yang mereka tinggalkan dipusakai oleh anak cucu.

…bukan jalan mereka yang dimurkai atasnya,…” (tengah Ayat 7).

Siapakah yang dimurkai Tuhan? ialah orang yang telah diberi kepadanya petunjuk, telah diutus kepadanya Rasul-rasul telah diturunkan kepadanya kitab-kitab Wahyu, namun dia masih saja memperturutkan hawa nafsunya. Telah ditegur berkali-kali, namun teguran itu, tidak juga diperdulikannya. Dia merasa lebih pintar daripada Allah, Rasul-rasul dicemoohkannya, petunjuk Tuhan diletakkannya ke samping, perdayaan syaitan diperturutkannya.

Dalam hikayat lama ada disebutkan bahwa pada suatu hari seorang pejabat besar kerajaan datang menghadap raja bersama-sama dengan pejabat besar-besar yang lain, setelah masuk ke dalam majelis raja, maka baginda menunjukkan wajah yang girang dan tersenyum simpul melihat tiap-tiap pejabat besar itu, tetapi kepada seseorang, baginda yang tidak melihat, entah karena lupa, entah karena sibuk.

Maka sangatlah duka cita hati pejabat besar yang seorang itu. Apakah baginda murka kepadanya, ataukah baginda tidak senang lagi. Maka setelah bubar majelis itu diapun kembali pulang ke rumahnya dengan hati sedih, lalu di minumnya racun setelah menulis sepucuk surat yang diwasiatkannya supaya disampaikan ke tangan baginda. Di situ dia tuliskan : “Oleh karena Sri Paduka tidak berkenan lagi kepada patik, telah patik ambil keputusan menghabisi hidup patik. Karena tidak ada harga hidup lagi kalau Sri Paduka tidak senang lagi melihat patik”.

Begitulah perasaan orang yang berkhidmat kepada raja apabila dia merasa bahwa rajanya tidak senang lagi kepadanya. Maka betapalah perasaan kita wahai insan yang ghafil, kalau Tuhan Allah yang murka kepada kita? Kitapun akan dihadirkan juga ke hadapan Tuhan bersama orang yang lain, tetapi kalau Tuhan murka kepada kita, akan betapalah sikap kita.

Dan Tuhanpun bersabda memang ada orang yang tidak akan dilawan bercakap oleh Tuhan pada waktu itu karena murka-Nya, sebagaimana tersebut di dalam Surat 3 AALI ‘IMRAN Ayat 77 tentang orang yang memperjual-belikan janji Allah dan mempermudah-mudah sumpah, karena mengharapkan harga yang sedikit. Padahal walaupun mendapat tukaran harga sebesar bumi dan langit, masih amat sedikit juga, karena ada yang akan dibawa ke akhirat.

إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Itulah orang yang tidak ada bagian untuk mereka di akhirat dan tidaklah Allah akan bercakap dengan mereka dan tidak akan memandang kepada mereka di hari kiamat dan tidak Dia akan membersihkan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih.” (Surat 3 AALI ‘IMRAN Ayat 77).

Dan seperti itu pula tertulis pada Surat 2 AL BAQARAH Ayat 174. Tidak diajak bercakap oleh Tuhan, tidak dipandang oleh Tuhan, seakan-akan Tuhan dalam bahasa umum “membuang muka” apabila berhadapan dengan dia. Begitulah nasib orang yang dimurkai.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit [murah], mereka itu sebenarnya tidak memakan [tidak menelan] ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (Surat 2 AL BAQARAH Ayat 174).

Orang yang dimurkai ialah yang sengaja keluar dari jalan yang benar karena memperturutkan hawa nafsu, padahal dia sudah tahu. Orang yang telah sampai kepadanya kebenaran agama, lalu ditolak dan ditentangnya. Dia lebih berpegang kepada pusaka nenek moyang, walaupun dia telah tahu bahwa itu tidak berat. Maka siksaan azablah yang akan dideritanya.

…dan bukan jalan mereka yang sesat.” (ujung Ayat 7).

Adapun orang yang sesat ialah orang yang berani-berani saja membuat jalan sendiri di luar yang digariskan Tuhan. Tidak mengenal kebenaran, atau tidak dikenalnya menurut maksud yang sebenarnya.

Sebagaimana telah kita kenal pada keterangan-keterangan di atas, tentang kepercayaan akan adanya Tuhan, sampai orang-orang Arab mengkhususkan nama Allah buat Tuhan Yang Maha Esa. Di sini telah kita maklumi bahwa kepercayaan kepada Tuhan itu telah ada dalam lubuk jiwa manusia. Tetapi kepercayaan tentang adanya Allah itu belumlah menjadi jaminan bahwa orang itu tidak akan sesat lagi.

Di Eropa pernah timbul suatu gerakan bernama Deisme, dengan dasar penyelidikan akal murni, mereka mengakui bahwa Tuhan itu memang ada. Tetapi mereka tidak mau percaya akan adanya Rasul, atau Wahyu, atau hari akhirat. Kata mereka dengan kepercayaan akan adanya Allah itu saja sudah cukup, agama tidak perlu lagi.

Tentang ketuhanan, ahli filsafat terbagi kepada dua golongan. Yaitu golongan Spiritualis dengan golongan Materialis. Golongan yang percaya adanya yang ghaib, terutama Tuhan, yang hanya percaya kepada benda saja, sudah nyata tersesat. Yang percaya ada Tuhan saja — tapi tidak percaya akan adanya syariat yang diturunkan Allah dengan mengutus Nabi-nabi dan menurunkan wahyu — itupun tersesat, sebab penilaian mereka tentang adanya Tuhanpun berbagai ragam, sehingga ada aliran Pantheisme, yang mengatakan bahwa seluruh yang ada ini adalah Tuhan belaka, atau Polytheisme, yaitu yang mengatakan Tuhan itu berbilang.

Orang-orang yang telah mengaku beragamapun bisa juga tersesat. Kadang-kadang karena terlalu taat dalam beragama, lalu ibadat ditambah-tambah daripada yang telah ditentukan dalam syariat, sehingga timbul bid’ah. Disangka masih dalam agama, padahal sudah terpesong keluar.

Ada sebuah Hadits yang shahih, dirawikan oleh Abdulah bin Humaid dari ar-Rabbi’ bin Anas, dan riwayat Abdulah bin Humaid juga daripada Mujahid, demikian juga daripada Said bin Jubair dan Hadits lain yang dirawikan oleh Imam Ahmad dan lain-lain daripada Abdullah bin Syaqiq, daripada Abu Zar, dan dirawikan juga oleh Sufyan bin Uyaynah dalam tafsirnya, daripada Ismail bin Abu Khalid, bahwa seketika orang bertanya kepada Rasulullah tentang siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang sesat. Lalu Rasulullah menjawab:

Yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai ialah Yahudi dan yang dimaksud dengan orang-orang yang sesat ialah Nasrani.”

Hadits ini dengan berbagai jalan Asbabul Wurud-nya dan riwayatnya telah tercantum pada kitab-kitab tafsir yang masyhur. Tetapi dia meminta penafsiran kita sekall lagi. Yang wajib kita tekankan perhatian kita ialah kepada sebab-sebab maka Yahudi dikatakan kena murka dan sebab sebab Nasrani tersesat. Perhatian kita jangan hanya ditunjukan kepada Yahudi dan Nasraninya saja, tetapi hendaklah kita tilik sebab mereka kena murka dan sebab mereka tersesat.

Yahudi dimurkai, sebab mereka selalu mengingkari segala petunjuk yang dibawa oleh Rasul mereka, kisah pengingkaran Yahudi itu tersebut di dalam kitab-kitab mereka sendiri sampai sekarang, sehingga Nabi Musa pernah mengatakan bahwa mereka itu “keras tengkuk”, tak mau tunduk, sampai mereka membunuh Nabi-nabi. Sebab itu Allah murka.

Nasrani tersesat, karena sangat cinta kepada Nabi Isa al-Masih, mereka katakan Isa itu anak Allah, bahkan Allah sendiri menjelma menjadi anak, datang ke dunia menebus dosa manusia.

Maka bagi kita umat Islam yang membaca al-Fatihah ini sekurangnya 17 kali sehari semalam, hendaklah diingat jangan sampai kita menempuh jalan yang akan dimurkai Allah pula, sebagai Yahudi.

Apabila satu kali kita telah memandang bahwa pelajaran yang lain lebih baik dan berguna daripada pelajaran Nabi Muhammad SAW maka mulailah kita diancam oleh kemurkaan Tuhan.

Di dalam Surat 4 AN NISAA’ Ayat 65, sampai dengan sumpah Tuhan menyatakan bahwa tidaklah mereka beriman sebelum mereka ber-tahkim kepada Nabi Muhamad SAW di dalam hal-hal yang mereka perselisihkan, dan mereka tidak merasa keberatan menerima keputusan yang beliau putuskan, dan merekapun menyerah sebenar-benar menyerah, kalau ini tidak kami lakukan, pastilah kita kena murka seperti Yahudi.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakekatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Surat 4 AN NISAA’ Ayat 65).

Dan kalau kita katakan pula misalnya bahwa Nabi Muhammad SAW itu adalah “al-Haqiqatul Muhammadiyah“, atau “Nur Muhammad“, yaitu Allah Ta’ala sendiri yang menjelmakan diri (Ibraza Haqiqatihi), ke dalam alam ini sebagai anutan setengah ahli tasauf, niscaya sesatlah kita sebagai Nasrani.

Saiyid Rasyid Rldha di dalam “al-Manar“-nya menguraikan penafsiran gurunya Syaikh Mohammad Abduh tentang orang yang tersesat, terbagi atas empat tingkat:

Pertama: Yang tidak sampai kepadanya dakwah, atau ada sampai tetapi hanya didapat dengan pancaindera dan akal, tidak ada tuntunan agama. Meskipun di dalam soal-soal keduniaan mungkin mereka tidak sesat, namun mereka pasti sesat dalam mencari pelepasan jiwa dan kebahagiaannya di akhirat. Siapa yang tidak menikmati agama tidaklah dia akan merasai nikmat dari kedua kehidupan itu. Akan berjumpalah bekas kekacauan dan kegoncangan dalam kepercayaan sehari-hari, diikuti oleh macam-macam bahaya dan krisis yang tidak dapat diatasi.

Yang demikian adalah Sunnatullah dalam alam ini, yang tidak dapat jalan lain untuk mengelakkannya. Adapun nasib mereka di akhirat kelak, nyatalah bahwa kedudukan mereka tidak sama dengan orang yang beroleh hidayat dan petunjuk. Mungkin juga diberi maaf oleh Tuhan, karena dia berbuat sekehendak-Nya.

Kedua: Sampai kepada mereka dakwah, atas jalan yang dapat membangun pikiran: merekapun telah mulai tertarik oleh dakwah itu, tetapi sebelum sampai menjadi kelmanannya, diapun mati.

Bagian ini terdapat pada orang-orang seorang dalam satu-satu bangsa, tidak umum, sehingga tidak ada kesannya kepada masyarakat banyak. Adapun nasib orang-orang seperti ini kelak, menurut pendapat Ulama-ulama Mazhab Asya’ri, diharapkan juga moga-moga mereka mendapat Rahmat belas-kasihan Tuhan. Abul Hasan Asy’ari sendiri berpendapat demikian. Tetapi menurut pendapat Jumhur (golongan terbesar) Ulama, tidaklah diragukan bahwa persoalan mereka lebih ringan daripada persoalan orang yang mengingkari sama sekali, yakni orang yang tidak percaya akan nikmat akal dan yang lebih senang dalam kejahilan.

Ketiga: Dakwah sampai kepada mereka dan mereka akui, tetapi tidak mereka pergunakan akal buat berpikir dan menyelidiki dari pokoknya, tetapi mereka berpegang teguh juga kepada hawa nafsu atau kebiasaan lama atau menambah-nambah. Inilah tukang-tukang bid’ah tentang akidah, inilah orang, yang i’tikad-nya telah jauh menyeleweng dari AL QUR’AN dan dari teladan yang ditinggalkan Salaf. Inilah yang membawa pecah ummat.

Keempat: Yang sesat dalam beramal, atau memutar-mutarkan hukum dari maksud yang sebenarnya. Seumpama orang yang mengelak supaya jangan sampai dia mengeluarkan zakat. Setelah dekat habis tahun dipindahkannya pemilikan harta itu kepada orang lain, misalnya kepada anaknya dan setelah lepas masa membayar zakat itu, dengan persetujuan berdua, anak itu menyerahkan pula kembali kepadanya. Dengan demikian dia merasa bangga karena telah merasa berhasil mempermainkan Tuhan Allah, disangkanya Tuhan Allah bodoh!

Kesesatan orang-orang ini timbul dari kepintaran otak tetapi batinnya kosong daripada iman. Diruntuhkan agamanya, tetapi dia sendiri yang hancur.

Sekian kita ringkaskan dari keterangan tentang orang yang sesat, adh-dhaalin menurut pembagian Ustadz Imam Muhammad Abduh.

Maka kalau sudah sampai kepada derajat yang keempat itu, meskipun umat tadi masih kelihatan beragama pada kulitnya, masih terietak merk Islam pada lainnya, dan masih diberi tanda “hijau” dalam peta negerinya, samalah artinya dengan agamanya tidak ada lagi. Akan beruntunlah kecelakaan menimpa umat itu, kecuall apabila datang pembaharuan (tajdid) dan pembangkitan semangat. Kalau pembaharuan tidak datang, umat itu akan hancur dan hilang, mungkin kelaknya berbondong keturunannya memeluk agama lain yang lebih kuat mengadakan propaganda. (HAMKA)

Tafsir Alquran Surat Al Fatihah ayat 6 - Al Azhar

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Ayat 6).

Memimta ditunjuki dan dipimpim supaya tercapai jalan yang lurus. Menurut keterangan setengah ahli tafsir, perlengkapan menuju jalan yang lurus, yang dimohonkan kepada Allah itu ialah: Pertama al-Irsyad, artinya agar dianugerahi kecerdikan dan kecerdasan, sehingga dapat membedakan yang salah dengan yang benar.

Kedua at-Taufiq, yaitu bersesuaian hendaknya dengan apa yang direncanakan Tuhan.

Ketiga al-Ilham, diberi petunjuk supaya dapat mengatasi sesuatu yang sulit.

Keempat ad-Dilalah, artinya ditunjuk dalil-dalil dan tanda-tanda di mana tempat berbahaya, di mana yang tidak boleh dilalui dan sebagainya. Seumpama tanda-tanda yang dipancangkan di tepi jalan, berbagai macamnya, untuk memberi alamat petunjuk bagi pengendara kendaraan bermotor.

Menurut riwayat Ibnu Abi Hatim darl Ibnu Abbas, menurut beliau yang dimaksud dengan meminta ditunjuki jalan yang lurus, tafsirnya ialah mohon ditunjuki agamamu yang benar.

Menurut beberapa riwayat dari ahli-ahli Hadits, daripada Jabir bin Abdullah yang dimaksud dengan Shirathal Mustaqim ialah Agama Islam. Dan menurut beberapa riwayat lagi, Ibnu Mas’ud mentafsirkan bahwa yang dimaksud dengan Shirathal Mustaqim ialah Kitab Allah (AL QUR’AN).

Menurut yang dirawikan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir, Abu Syaikh, al-Hakim, Ibnu Mardawaihi dan al-Baihaqi sebuah Hadits Rasulullah SAW diriwayatkan daripada an-Nawwas Ibnu Sam’an, pernah Rasulullah SAW berkata, bahwasanya Allah Ta’ala telah membuat satu perumpamaan tentang Shirathal Mustaqim itu: bahwa di kedua belah jalan itu ada dua buah dinding tinggi. Pada kedua dinding tinggi itu ada beberapa pintu terbuka, dan di atas tiap-tiap pintu itu ada lelansir penutup (gordiyn).

Sedang diujung jalan tengah yang lurus (Shirathal Mustaqim) itu ada seorang berdiri memanggil-manggil: “Wahai sekalian manusia, masuklah ke dalam Shirat ini semuanya, jangan kamu berpecah belah”, dan ada pula seorang penyeru dari atas Shirat. Maka apabila.manusia hendak membuka salah satu dari pintu-pintu itu berkatalah dia : “Celaka! Jangan engkau buka itu! Kalau dia engkau buka, niscaya engkau akan terperosok ke dalam.” Maka kata Rasulullah selanjutnya:

Jalan Shirat itu ialah Islam, dan kedua dinding sebelah menyebelah itu ialah segala batas-batas yang ditentukan Allah. Dan banyak pintu-pintu terbuka itu ialah segala yang diharamkan Allah. Penyeru yang menyeru di ujung jalan itu lalah Kitab Allah, dan penyeru yang menyeru dari atas ialah Wa’izh (Pemberi Nasihat) dari Allah yang ada dalam tiap-tiap diri Muslim“.

Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa Hadits ini hasan lagi shahih.

Maka semua penafsiran tadi dapatlah digabungkan menjadi satu Shirathal Mustaqim memang agama yang benar, dan itulah Agama Islam. Dan sumber petunjuk dalam Islam itu tidak lain ialah AL QUR’AN, dan semuanya dapat diambil contohnya dari perbuatan Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabat beliau yang utama.

Hanya seorang Ulama saja mengeluarkan tafsir agak sempit, yaitu Fudhail bin Iyadh. Menurut beliau Shirathal Mustaqim ialah jalan pergi naik Haji. Memang dapat menunaikan Haji sebagai rukun Islam yang kelima, dengan penuh keinsafan dan kesadaran, sehingga mencapai Haji yang Mabrur, sudah sebagian daripada Shirathal Mustaqim juga. Apatah bagi orang semacam Fudhail bin lyadh sendiri, adapun bagi orang lain belum tentu naik Haji itu menjadi Shirathal Mustaqim, terutama kalau dikerjakan karena riya, mempertontonkan kekayaan, mencari nama, atau sebagai politik untuk mencari simpati rakyat yang bodoh.

Dengan Ayat ini kepada kita telah ditunjukkan apa yang amat penting kita mohonkan pertolongan kepada-Nya. Mohon ditunjuki jalan yang lurus.

Kita telah ditakdirkan-Nya hidup di dunia ini. Melalui hidup di dunia ini, samalah artinya dengan melalui suatu jalan. Kita takut akan bahaya dan ingin selamat dalam perjalanan itu. Kita mau yang baik dan tidak mau yang buruk. Kita mau yang manfaat dan tidak mau yang mudharat. Dengan Ayat-ayat yang di atas kita telah memulal membaca dengan namanya. Kita telah mengakui bahwa Dla Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

Kita telah memuji Dia, sebagal Tuhan Pemelihara, Pendidik sekalian alam. Dan kita telah mengakui bahwa kekuasaan-Nya meliputi dunia dan akhirat. Dia Rahman dan Rahim, tetapi Dia juga menguasai dan mempunyai Hari Pembalasan.

Lantaran itu semuanya kita telah menyerah kepada-Nya: kepada-Nya saja, tidak kepada yang lain. Sehingga kita telah menyatakan tekad bahwa yang kita sembah hanya Dia dan tempat kita memohon pertolongan hanya Dia. Sekarang setelah penyerahan demikian mulailah kita memasukkan permohonan puncak dari segala permohonan, yaitu agar supaya ditunjuki jalan yang lurus.

Kitapun mengaku bahwa petunjuk itu sejak lahir ke dunia telah diberikan secara berangsur. Pertama sejak mulai lahir telah diberi kita persediaan petunjuk pertama, sehingga bila terasa lapar kita menangis, bila terasa basah kitapun menangis: dan sejak lahir telah diberi petunjuk kita bagaimana mencucut susu ibu.

Dan setelah itu dengan berangsur-angsur, dari hari ke hari, bulan ke bulan, berangsur kita dapat membedakan bunyi yang didengar dan warna yang dilihat. Dalam masa perangsuran itu kita diberi naluri untuk perlengkapan hidup, sebagai yang diberikan sekaligus kepada binatang. Tetapi pada binatang terhenti hingga demikian saja, dan pada kita manusia diteruskan lagi dengan pertumbuhan akal dan pikiran.

Akallah yang memperbaiki kesalahan pendapat panca indera, mata melihat dan merasa seketika kereta api yang kita tumpangi berhenti di sebuah stasiun dan bahwa dia telah berangkat pula, padahal yang berangkat itu belum kereta api yang kita tumpangi itu, melainkan kereta api yang disebelahnya. Dan lain-lain sebagainya. Mata melihat tongkat yang lurus di dalam air menjadi bengkok, sedang akal menolaknya.

Tetapi akal saja belumlah cukup menjadi pedoman. Sebab dalam diri kita sendiri bukan akal dan panca indera saja yang harus diperhitungkan. Kita perhitungkan juga syahwat dan hawa nafsu kita, demikian juga naluri-naluri yang lain. Kita kepingin makan dan minum, supaya hidup. Supaya berketurunan kita ingin mempunyai teman hidup: laki-laki mencari perempuan dan perempuan menunggu laki-laki. Kita ingin mempunyai apa-apa, kita ingin mempunyai persediaan. Kita ingin orang lainpun ingin.

Untuk mencari apa yang kita ingini itu kita pergunakan akal, dan orang lain untuk mencari keinginannya mempergunakan akalnya pula. Kadang-kadang seluruh orang mengingini satu macam barang, maka terjadilah perebutan. Mendapatlah siapa yang lebih cerdik atau lebih kuat.

Kadang-kadang nampak satu hal yang diperlukan dan sangat diingini. Dipakailah segala daya-upaya untak mencapainya. Kemudian setelah didapat ternyata membawa celaka pada diri. Ada hal yang pahit mulanya dan manis ujungnya. Dan ada pula sebaliknya. Dengan demikian maka pengalaman manusia menunjukkan bahwa akal saja tidaklah cukup untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

Mesti ada tuntunan terhadap akal itu sendiri. Itulah Hidayat Agama. Untuk itulah Rasul-rasul diutus dan Kitab-kitab wahyu diturunkan. Rasul-rasul dan Kitab-kitab wahyu itu diutus dan dikirim Allah, Tuhan seru sekalian alam, Maha Pencipta dan Maha Pemelihara.

Dengan perantara Rasul itulah Tuhan mengatakan bahwa di belakang hidup yang sekarang ini ada lagi Hari Akhirat. Untuk memperhitungkan perbuatan dalam perjalanan hidup itu, bagaimana pemakaian panca indera dan bagaimana pemakaian akal, adakah dia membawa maslahat bagi diri sendiri dan bagi sesama manusia dan bagi hubungan dengan Allah.

Itulah yang kita mohonkan kepada Allah, agar kita ditunjuki jalan yang lurus itu.

Menurut pelajaran ilmu ukur ruang, garis lurus ialah jarak yang paling dekat di antara dua titik. Maka di dalam Shirathal Mustaqim yang kita mohonkan ini, dua titik itu ialah: yang pertama titik kita sebagai hamba, yang kedua titik Allah sebagai Tuhan kita.

Kita berjalan menuju Dia dan kita datang dari Dia. Mau atau tidak mau, namun kita adalah dari Dia, menuju Dia, dan bersama Dia. Oleh karena banyaknya rintangan, kerapkali kita lupa akan hal itu. Atau ada mengetahui, tetapi tidak tahu jalan mana yang akan ditempuh.

Kadang-kadang disangka sudah jalan lurus itu yang ditempuh, padahal sudah terbelok kepada yang lain. Kita memohon agar Dia sendiri menujuki kita jalan lurus itu, sehingga sampai dengan cepat kepada yang dituju, jangan membuang waktu pada usia yang hanya sedikit, merencah-rencah dan terperosok ke jalan lain. Maka yang diminta ialah agar seluruh keperibadian kita, yang mengandung akal, nafsu syahwat, perasaan, kemauan, terkumpul menjadi satu dalam petunjuk hidayah Tuhan.

Inilah puncaknya permohonan, yang tadi pada Ayat sebelumnya telah kita nyatakan, bahwa hanya kepada-Nya saja kita memohon pertolongan, kita tidak hendak meminta benda. Kita tidak meminta rumah bagus, kekayaan melimpah, dan lain-lain hal yang remeh. Kita memohonkan pokoknya yaitu petunjuk, dan yang lain adalah terserah.

Kalau petunjuk jalan lurus itu tidak diberi, walaupun yang lain hal yang remeh diberikannya, maka yang lain itu besar kemungkinan akan mencelakakan kita. (HAMKA)