hERBAL

Syetan Tampak dan Ghaib

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)…” (Al-An’aam [6]: 112)

Sejak divonis sesat dan kafir oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT), iblis (setan) laknatullah alaihi terus melancarkan serangannya kepada manusia. Tujuan akhirnya, menggiring mereka menuju neraka Sa’ir. Untuk itu, setan merayu, membujuk dan menggoda manusia dari segala penjuru. (Al-A’raaf [7]: 17)

Untuk misi tersebut, seluruh bala tentara setan juga dikerahkan, baik yang tidak tampak dari golongan jin, maupun setan dari golongan manusia. Masing-masing memiliki peran yang strategis untuk menyesatkan manusia. Mana yang lebih berbahaya bagi manusia? Tergantung dari sudut mana kita menimbangnya. Yang urgen, kita mengetahui sisi bahaya masing-masing dan bagaimana antisipasinya.

Bahaya Setan Tak Tampak
Tidak mudah melawan musuh yang tak kelihatan, bahkan kehadirannya kerap kali tak terdeteksi oleh kita. Sedikit orang yang menyadari bahwa di saat ia sepi sendiri, ada hiruk pikuk setan yang membisikinya, mencari celah untuk menjerumuskannya ke dalam dosa. Begitupun di saat ramai, setan selalu aktif melancarkan serangan demi serangan ke dalam hati manusia. Sementara yang diserang tak mengerti situasi ini, bahkan meskipun kalah telak dalam pertarungan itu, kebanyakan tidak menyadarinya.

Karenanya, Allah SWT mengajarkan kepada kita cara yang berbeda dalam menghadapi setan jin dan setan manusia.

“Jadilah engkau pema’af, dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. ” (Al-A’raf [7]: 199-200)

Ibnu Katsier menafsirkan ayat tersebut dan yang semisalnya, bahwa Allah SWT memerintahkan untuk bersikap baik kepada musuh yang berujud manusia. Tujuannya, mengubah tabiat mereka yang benci menjadi cinta. Akan tetapi untuk menghadapi setan dari golongan jin, Allah SWT memerintahkan membaca ta’awudz.

Sebab, perlakuan baik tidak akan mengubah watak setan jin yang tidak memiliki selain kebinasaan anak Adam. Karena takkan mungkin menaruh belas kasihan kepada kita, maka takkan mungkin mereka simpati dengan sifat baik kita, meskipun kita menuruti keinginannya.

Maka tak ada jalan damai bagi setan jin, baik di awal maupun di akhirnya. Tak ada tahapan berlemah lembut atau menarik simpati untuk menghadapinya. Berbeda dengan setan manusia, ada tahapan bicara dengan lemah lembut, berdebat dengan cara yang baik, hingga memerangi mereka dengan senjata.

Dari bentuk permusuhan, serangan yang dilakukan setan jin terhadap manusia juga sangat beragam. Dari bisikan, rayuan atau lintasan-lintasan pikiran yang menampakkan keelokan perbuatan dosa, menghalangi manusia dari ketaatan, menggambarkannya sebagai beban berat, hingga mengganggu secara fisik dan mental.

Tak hanya di siang hari, saat manusia tidur, setan jin pun terus menggoda, sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW),

يَعْقِدُ الشَّيْطاَنُ عَلَى قاَفِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذاَ هُوَ ناَمَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ عَلَى مَكاَنِ كُلِّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيْلٌ فَارْقُدْ

“Setan mengikatkan tali ke tengkuk manusia dengan tiga ikatan di saat tidur, dia mengencangkan talinya setiap kali mengikat sembari berkata: ‘malammu masih panjang, maka tidurlah.” (Riwayat Bukhari dengan Syarah Fathul Baari)

Tujuannya, agar manusia tertidur dari kewajiban shalat dan kehilangan keutamaan shalat dan zikir di waktu malam. Di dalam Shahihain disebutkan, ketika diceritakan kepada Rasulullah SAW tentang seseorang yang tidur semalam suntuk hingga subuh, maka Nabi SAW bersabda: ‘Itulah orang yang telingannya atau sebelah telingannya dikencingi oleh setan.’

Mimpi buruk, juga merupakan sebentuk gangguan setan untuk menakut-nakuti manusia, sebagaiamana Nabi SAW menyebutkan salah satu jenis mimpi sebagai ‘takhwif minasy syaithan’, setan yang menakut-nakuti. Jika kita mengalami kejadian ini, Nabi SAW menganjurkan kita membaca ta’awudz dan tanaffuts (meludah kecil) ke kiri tiga kali. Adapun pencegahannya dengan membaca Surat-surat Mu’awwidzat sebelum tidur, yakni surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas.

Bahaya Setan Tampak Mata
Jika setan jin segera menyingkir ketika kita membaca ta’awudz, atau lari terbirit-birit ketika mendengar adzan, tidak demikian halnya dengan setan manusia. Dari sisi ini, setan manusia lebih berbahaya. Seperti yang diungkapkan oleh ulama tabi’in, Malik bin Dinar rahimahullah, “Setan manusia lebih berat bagiku daripada setan dari golongan jin. Karena setan dari golongan jin akan lari ketika aku membaca ta’awudz kepada Allah SWT. Adapun setan manusia, di pelupuk mata dia mendatangiku dan menarikku menuju maksiat.”

Dari sisi spontanitas dan dhahirnya, setan manusia memang tidak tersakiti dengan bacaan ta’awudz maupun adzan. Perlindungan Allah SWT terhadap setan dari golongan manusia memiliki bentuk lain, yang intinya menyelamatkan kita dari tipu daya setan manusia.

Setan manusia terkadang memiliki lisan yang fasih, penampilan menarik dan mempunyai keterampilan khusus. Misalnya, mereka mengemas kemaksiatan dengan nama yang disukai banyak orang. Seperti ketika setan menggoda Adam dengan rayuannya:

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?’ (Thaha [20]: 120)

Ibnul Qayyim berkata tentang ayat ini, “Para pengikut setan (dari golongan manusia) mewarisi cara setan ini, yakni dengan memberikan nama sesuatu yang haram dengan nama yang disukai oleh nafsu, seperti menamakan khamr dengan puncak kelezatanan..” Seperti hari ini, mereka menamakan pamer aurat sebagai seni, seks bebas sebagai budaya modern dan tarian erotis sebagai kebebasan berekspresi.

Setan juga menamakan ketaatan dengan nama yang menyeramkan. Setiap kali Nabi SAW diutus, maka ada setan manusia yang menjulukinya dengan gelaran yang buruk, seperti tuduhan sesat, bodoh, gila atau dijuluki tukang sihir. Adapun sekarang, mereka menamakan orang yang taat dan tunduk lahir bathin kepada aturan syar’i sebagai kaum fundamentalis, ekstrimis, cupet nalar dan bahkan teroris.

Persekongkolan antara Setan Jin dan Manusia
Serangan akan bertambah dahsyat ketika setan jin dan setan manusia bersekongkol untuk menebar dosa. Berbagai kreasi, ide dan karya keji bergulir silih berganti. Jangan heran jika para juru kampanye kesesatan sangat kreatif, inovatif dan kaya ide untuk menarik perhatian manusia. Dari mana saja mereka mendapatkan ide dan inspirasi?

Pertanyaan tersebut terjawab dengan firman Allah SWT di atas (Al-An’am [6]: 112). Ibnul Qayyim dalam Bada’i’ul Fawa’id (II/266) menafsirkan ayat ini, “Setan jin mewahyukan kebathilan kepada manusia, begitupun setan manusia mewahyukan kebathilan kepada manusia yang lain, sehingga antara setan jin dan setan manusia saling bekerja sama untuk menyampaikan kemauan ‘syaithani’”.

Untuk mengantisipasi serangan ini, hendaknya rajin mencari ilmu syar’i, peka dan menaruh sensor ketat terhadap maksiat, serta berusaha konsisten di jalan syariat. Wallahu a’lam. *Abu Umar Abdillah/Suara Hidayatullah, MARET 2009

Tags: dari, tidak, untuk, yang, dengan, kita, kepada, manusia, mereka, setan
Hits: 617

Add comment