ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Inilah Kitab itu; tidak ada sebarang keraguan padanya; satu petunjuk bagi orang-orang yang hendak bertaqwa” (Ayat 2).

Inilah dia kitab Allah itu. Inilah dia AL QUR’AN, yang meskipun seketika Ayat ini diturunkan belum merupakan sebuah naskah atau mushhaf berupa buku, namun setiap Ayat dan Surat yang turun sudah mulai beredar dan sudah mulal dihapal oleh sahabat-sahabat Rasulullah: tidak usah diragukan lagi, karena tidak ada yang patut diragukan.

Dia benar-benar wahyu dari Tuhan, dibawa oleh Jibril, bukan dikarang-karang saja oleh Rasul yang tidak pandai menulis dan membaca itu. Dia menjadi petunjuk untuk orang yang ingih bertakwa atau Muttaqin.

Kita baru saja selesai membaca AL FAATIHAH. Di sana kita telah memohon kepada Tuhan agar ditunjuki jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat, jangan jalan orang yang dimurkai atau orang yang sesat. Baru saja menarik napas selesai membaca surat itu, kita langsung kepada Surat AL BAQARAH dan kita langsung kepada Ayat ini.

Permohonan kita di Surat AL FAATIHAH sekarang diperkenankan. Kamu bisa mendapat jalan yang lurus, yang diberi nikmat, bukan yang dimurkai dan tidak yang sesat, asal saja kamu suka memakai pedoman kitab ini. Tidak syak lagi, dia adalah petunjuk bagi orang yang suka bertakwa.

Apa arti takwa?

Kalimat takwa diambil dari rumpun kata wiqayah artinya memelihara. Memelihara hubungan yang baik dengan Tuhan. Memelihara diri jangan sampai terperosok kepada suatu perbuatan yang tidak diridhai oleh Tuhan. Memelihara segala perintah-Nya supaya dapat dijalankan. Memelihara kaki jangan terperosok ke tempat yang lumpur atau berduri.

Sebab pernah ditanyakan orang kepada sahabat Rasulullah, Abu Hurairah (ridha Allah untuk beliau), apa arti takwa? Beliau berkata: “Pernahkah engkau bertemu jalan yang banyak duri dan bagaimana tindakkanmu waktu itu?” Orang itu menjawab: “Apabila aku melihat duri, aku mengelak ke tempat yang tidak ada durinya, atau aku langkahi, atau aku mundur.” Abu Hurairah menjawab: “Itulah dia takwa!” (Riwayat darl Ibnu Abid Dunya).

Maka dapatlah dipertalikan pelaksanaan jawaban Tuhan dengan ayat ini atas permohonan kita terakhir pada Surat AL FAATIHAH tadi. Kita memohon ditunjuki jalan yang lurus, Tuhan memberikan pedoman kitab ini sebagal petunjuk dan menyuruh hati-hati dalam perjalanan, itulah takwa. Supaya jalan lurus bertemu dan jangan berbelok di tengah jalan.

Ketika pada akhir Desember 1962 kami mengadakan Konferensi Kebudayaan Islam di Jakarta, dengan beberapa teman telah kami dicarakan pokok isi dari Kebudayaan Islam.

Akhirnya kami mengambil kesimpulan, ialah bahwa Kebudayaan Islam ialah kebudayaan takwa. Dan kamipun sepakat mengambil langsung kalimat takwa itu, karena tidak ada kata lain yang pantas menjadi artinya.

Jangan selalu diartikan takut, sebagai yang diartikan oleh orang yang terdahulu. Sebab takut hanyalah sebagian kecil dari takwa. Dalam takwa terkandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, sabar dan lain-lain sebagainya.

Takwa adalah pelaksanaan dari iman dan amal shalih. Meskipun di satu-satu waktu ada juga diartikan dengan takut, tetapi terjadi yang demikian ialah pada susunan Ayat yang cenderung kepada arti yang terbatas itu saja. Padahal arti takwa lebih mengumpul akan banyak hal.

Bahkan dalam takwa terdapat juga berani! Memelihara hubungan dengan Tuhan, bukan saja karena takut, tetapi lebih lagi karena ada kesadaran diri, sebagai hamba.

Dia menjadi petunjuk buat orang yang suka bertakwa, apatah lagi bagi orang yang telah bertakwa. Sama irama Ayat ini dengan Ayat di dalam Surat AL WAAQI’AH:

لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Tidaklah akan menyentuh kepadanya, melainkan makhluk yang telah dibersihkan” (Surat 56 AL WAAQI’AH Ayat 79).

Sehingga kalau hati belum bersih, tidaklah AL QUR’AN akan dapat menjadi petunjuk. (HAMKA)

Add comment