وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

Dan Orang-orang yang percaya kepada apa yang diturunkan kepada engkau…” (pangkal Ayat 4).

Niscaya baru sempurna iman itu kalau percaya kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai iman dan ikutan.

Percaya kepada Allah dengan sendirinya pastilah menimbulkan percaya kepada peraturan-peraturan yang diturunkan kepada Utusan Allah, lantaran itu percaya kepada Muhammad SAW itu sendiri, percaya kepada Wahyu dan percaya kepada contoh-contoh yang beliau bawakan dengan sunnahnya, baik kata-katanya, atau perbuatannya ataupun perbuatan orang lain yang tidak dicelanya. Dengan demikianlah baru iman yang telah tumbuh tadi terpimpin dengan baik.

…dan apa yang diturunkan sebelum engkau…” (tengah Ayat 4).

Yakni percaya pula bahwa sebelum Nabi Muhammad SAW tidak berbeda pandangan kita kepada Nuh atau Ibrahim, Musa atau Isa, dan Nabi-nabi yang lain. Semua adalah Nabi kita! Lantaran itu pula tidak berbeda pandangan orang mukmin itu terhadap sesama manusia. Bahkan adalah manusia itu umat yang satu. Dengan demikian, kalau iman kita kepada Allah telah tumbuh, tidaklah mungkin seorang mukmin itu hanya mementingkan golongan, lalu memandang rendah golongan yang lain.

Mereka mencari titik-titik pertemuan dengan orang yang berbeda agama, dalam satu kepercayaan kepada Allah Yang Tunggal tidak terbilang. Dan tidaklah mungkin mereka mengaku beriman kepada Allah, tetapi peraturan hidup tidak mereka ambil dari apa yang diturunkan Allah. Bahkan kitab-kitab suci yang manapun yang mereka baca, entah Taurat maupun Injil, atau Upanishab dan Reg Veda, mukmin yang sejati akan bertemu di dalamnya mana yang mereka punya, sebab kebenaran hanyalah satu. Dan demikian memancarlah Nur atau cahaya daripada iman mereka itu, dan mencahayai kepada yang lain. Sebab pegangan mereka adalah pegangan yang pokok. Dan sebagai kunci Ayat, Tuhan bersabda:

…dan kepada akhirat mereka yakin” (ujung Ayat 4).

Inilah kunci penyempurna iman. Yaitu keyakinan bahwa hidup tidaklah selesai hingga hari ini, melainkan masih ada sambungannya. Sebab itu maka hidup seorang mukmin terus dipenuhi oleh harapan bukan oleh kemuraman: terus optimis, tidak ada pesimis. Seorang mukmin yakin Ada Hari Esok! Kepercayaan akan Hari Akhirat mengandung:

  1. Apa yang kita kerjakan di dunia ini adalah dengan tanggungjawab yang penuh. Bukan tanggungjawab kepada manusia, tetapi kepada Tuhan yang selalu melihat kita, walaupun sedang kita berada sendirian. Semuanya akan kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Tanggungjawab bukan jawab yang tanggung.
  2. Kepercayaan kepada akhirat meyakinkan kita bahwa apa-apapun peraturan atau susunan yang berlaku dalam alam dunia ini tidaklah akan kekal: semuanya bergantian, semuanya berputar, dan yang kekal hanyalah peraturan kekal dari Allah, sampai dunia itu sendiri hancur binasa.
  3. Setelah hancur alam yang ini, Tuhan akan menciptakan alam yang lain, langitnya lain, buminya lain, dan manusia dipanggil buat hidup kembali di dalam alam yang baru dicipta itu dan akan ditentukan tempatnya sesudah penyaringan dan perhitungan amal di dunia.
  4. Surga untuk yang lebih berat amal baiknya. Neraka untuk yang lebih berat amal jahatnya. Dan semuanya dilakukan dengan adil.
  5. Kepercayaan akan Hari Akhirat memberikan satu padangan khas tentang menilai bahagia atau celaka manusia. Bukan orang yang hidup mewah dengan harta benda, yang gagah berani dan tercapai apa yang dia inginkan, bukan itu ukuran orang yang jaya. Dan bukan pula karena seorang hidup susah, rumah gubuk dan menderita yang menjadi ukuran untuk menyatakan bahwa seorang celaka. Tetapi kejayaan yang hakiki adalah pada nilai iman dan takwa disisi Allah, di hari kiamat. Yang semulia-mulia kamu disisi Allah ialah yang setakwa-takwa kamu kepada Allah.

Sebab itu tersimpullah semua kepada Ayat yang berikutnya…. (HAMKA)

Add comment